Ketika Hidup Terasa Baik-Baik Saja dan Itu Justru yang Mengganggu

Alhamdulillah.

Kata itu selalu ada di bibir, dan memang layak ada di sana.

Anak-anak sudah bisa sekolah di tempat terbaik yang bisa diberikan. Rumah ada. Kendaraan ada. Pekerjaan memberikan benefit yang lebih dari cukup — jaminan kesehatan, stabilitas, kepastian tiap bulan, bonus kinerja, aktualisasi diri, dan semua kenyamanan yang sudah lama terasa.. normal.

Bisa investasi properti, walau kecil-kecilan. Bisa investasi yang aman dan bertumbuh.

Pagi hari berjalan seperti yang seharusnya: bangun sebelum subuh, mulai pagi dengan tenang, beres-beres rumah, antar anak-anak ke sekolah, berangkat kerja. Semua normal. Semua baik-baik saja.

Tapi di dalam diam — di sela-sela rutinitas yang rapi itu — ada sesuatu yang tidak ikut diam.

Seperti ada suara kecil yang terus ingin didengar.

Apakah memang ini jalanku?

Bukan suara ketidaksyukuran

Itu penting untuk dipahami dulu, sebelum kita terlalu cepat menghakimi diri sendiri.

Syukur dan pertanyaan bisa hidup bersamaan. Seseorang bisa bersyukur atas apa yang ada, dan di saat yang sama merasakan bahwa ada sesuatu yang belum selesai — sesuatu yang belum ditemukan tempatnya.

Lalu tiba-tiba, bayangan itu datang.

Kota yang damai. Sejuk. Tenang. Kota asal yang selama ini hanya jadi tujuan mudik — tapi diam-diam terus hidup di pikiran. Bisa temani orang tua yang semakin tua. Bisa kembali ke lingkaran kajian yang terasa seperti rumah. Pulang bisa ngafe sama istri, tanpa sibuk bermacet-macetan setiap harinya.

Dan pertanyaan itu muncul lagi, lebih keras kali ini:

Apakah ini tidak bersyukur? Atau ini memang panggilan yang belum dijawab?

Inilah persimpangan yang jarang dibicarakan

Bukan persimpangan antara yang baik dan yang buruk — itu lebih mudah. Ini persimpangan antara yang BAIK dan yang mungkin lebih MEMBEBASKAN.

Hidup yang sudah layak, tapi ada impian yang sepeti tidak mau dikubur. Ada visi tentang versi diri yang lain — yang bukan lebih kaya atau lebih sukses secara dunia, tapi lebih selaras. Lebih dekat dengan orang-orang yang dicintai. Lebih hadir. Lebih tenang di dalam, bukan hanya terlihat wah dari luar.

Hati yang gelisah di tengah hidup yang rapi bukan tanda kegagalan. Ia bisa jadi tanda bahwa ada sesuatu di dalam diri yang masih ingin diarahkan — sesuatu yang tidak diletakkan di sana untuk diabaikan, tapi untuk didengarkan.

Ini bukan kegelisahan biasa. Ini fithrah yang belum menemukan tempatnya.

Fithrah — kecenderungan asal manusia untuk mencari sesuatu yang lebih bermakna dari sekadar aman dan cukup. Ia tidak bisa ditekan terus-menerus. Ia akan terus mengetuk, dengan cara yang berbeda-beda, di waktu yang tidak selalu kamu duga.

Rutinitas yang rapi bisa menjadi tempat yang sangat nyaman untuk bersembunyi dari pertanyaan besar itu. Dan ironinya.. kenyamanan, tanpa disadari, bisa menjadi penjara yang paling halus.

Aku tidak tahu bagaimana kamu memandang ini

Dan bagian ini bukan tempatnya memberikan jawaban.

Tapi ada satu pengingat yang sulit untuk diabaikan:

“Ambillah kesempatan lima perkara sebelum datang lima perkara: mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu…” — HR. Al-Hakim, dishahihkan Al-Albani

Kamu masih di sini. Masih muda. Masih sehat. Masih punya waktu untuk menjawab pertanyaan yang sudah lama mengetuk itu.

Tapi waktu tidak menunggu sampai kita siap.. waktu tidak menunggu sampai ada yang menjamin ini akan berhasil.

Maka ada satu pertanyaan yang layak dibawa diam-diam — bukan untuk dijawab hari ini, tapi untuk dijaga agar tidak dilupakan:

Kalau semua hambatan praktis tidak ada — tidak ada kekhawatiran tentang uang, tentang karier, tentang besok makan apa — kehidupan seperti apa yang sebenarnya kamu bayangkan?

Bukan kehidupan yang lebih mewah. Tapi kehidupan yang lebih kamu.

Karena persimpangan ini bukan tentang bersyukur atau tidak. Ini tentang keberanian untuk jujur pada diri sendiri — bahwa ada sesuatu yang ingin kamu bangun atau bebaskan, dan ia belum selesai.

Dan mungkin, justru ketenangan yang kamu cari itu tidak akan datang dari menambah lebih banyak hal.

Tapi dari keberanian untuk memilih arah yang benar.

Selagi masih ada waktu.

Leave a Comment